Selasa, 01 September 2009

Kisah Preman Yang Berhati Emas

Dorman namanya. Dia preman tersangar di pasar Kranggan.

Badannya kekar. Urat-urat kasar menyembul dari pergelangan tangannya yang berwarna hitam mengkilat.

Rambut gondrong dan jaket jeans lusuh warna hitam, jadi ciri resmi Preman ini.

Siapapun takut dengan Dorman. Karena Dorman tidak takut apapun.

Pada suatu hari, ada anak kecil bernama Herman yang berkunjung ke pasar Kranggan.

Herman anak yang riang. Makanan favoritnya adalah gulali.

Kali ini dia disuruh ibu untuk membeli bahan makanan untuk persiapan pengajian nanti malam.

Herman datang bersama Gunawan, teman akrabnya yang sering merasa ngantuk.

Gunawan dibawa untuk membantu membawa barang belanjaan yang banyaknya tak terkira.

Gunawan yang kurus tentu tidak kuat membawa barang bawaan sebanyak itu.

Herman kebingungan. Sementara Gunawan tak bisa diharapkan. "Aku tidak tidur dua malam, Man," keluh dia.

Mereka berpikir 6 jam lamanya hingga hari sudah malam.

Pasar jadi sepi, semua penjual sudah mengemasi barang dagangan.

Dua anak kecil yang sedang kebingungan itu terlihat sedikit ketakutan saat dia melihat Dorman mendekat.

Wajah bengis Dorman tidak bisa ditutupi dengan senyuman yang tampak seperti dibuat-buat itu.

Dorman makin mendekat. Tiba-tiba, ia mencengkeram tas besar berisi belanjaan yang dipegang Herman.

Herman menggigil ketakutan, tapi Gunawan diam saja. Rupanya Gunawan tertidur.

"Gunawan! Bangun!" teriak Herman. Dorman semakin dekat. Tatapan matanya keji.

Gunawan tetap terlena. Sesekali dia mengucapkan patahan kata bak seorang penyiar tipi pembaca berita bahasa cina.

Sesaat Herman ingin tertawa, tetapi Herman ingat kalau bahaya sedang mengancamnya.

Tapi Gunawan tak terbangun juga. Padahal Herman sudah melancarkan segala daya upaya.

"Coba sini saya periksa, sepertinya temenmu itu ngga wajar tidurnya" !! Dorman berujar dengan nada tegas berwibawa, ternyata dorman bercita2 menjadi seorang dokter.

Dorman mengeluarkan alat suntik, dan menusukkan jarum tipis itu ke pantat Gunawan.

Herman terhenyak. Untuk sesaat mulutnya ternganga, baru kali ini ia melihat pantat Gunawan dari dekat.

Dan Gunawan berteriak "GONG XI FAT CHOI!!!".

Artinya, semoga kaya raya...

Herman tau hal itu setelah baca kamus indonesia-mandarin yang selalu dibawanya.

Dormanpun kegirangan karena menemukan teman mandarinnya. "Tau cho tsu xie meymey" ujar Dorman.

Yang berarti...

"Pantatmu sungguh indah, kangmas Gun..".

Gunawan tersipu. Herman cuma bisa melongo.

kantung belanjaanpun terjatuh! "omaigat" ujar Herman.

Tak disangka, Dorman yang sangar membantu Herman mengumpulkan belanjaan yang tercecer.

Dorman pun dengan penuh senyum lembut mengambil kantung belanjaan Herman. Dibelainya dengan mesra tangan Herman.

Herman bergidik bergelinjangan. Gunawan jadi bete.

Dorman tahu Gunawan jeles. Digandengnya tangan mungil Gunawan.

Gunawan luluh. Dia tidak bisa menolak.

Akhirnya mereka bertiga menepi di depan sebuah salon.

Gunawan yang merasa mengantuk memutuskan untuk kerimbat.

Kapsternya yang manis, dengan rok mini diatas paha.

Tapi Gunawan tidak menggubrisnya.

Selamat siang mas, ada yang bisa saya bantu ! Suaranya terdengar agak berat walaupun sudah dibuat semanis mungkin. Mungkin dia dari thailand.

Gunawan pun mesam mesem melihat Dorman yang dari tadi milirik dirinya.

Dorman pun melirik genit ke arah Gunawan.

Sambil berkata kepada kapster "Dasar bodoh! Ini sudah malam!".

Mereka bertiga akhirnya keluar dari salon itu. Kantong belanjaan Herman masih digotong oleh Dorman. Gunawan dan herman mengikuti dari belakang.

Dorman pun akhirnya memilih menyusuri bawah jembatan Gondolayu dan kali Code sebagai jalan alternatif.

Sepanjang jalan, Dorman bernyanyi lagu Gaby.

Gunawan memandang tubuh atletis Dorman dari belakang dan mengagumi suara Dorman.

Sepertinya suara Bang Dorman begitu familiar.

Setelah berjalan kira2 setengah jam, tiba juga mereka di rumah Herman. Di pintu pagar, ibu Herman menanti dengan cemas.

Tak lupa anjingnya pun ikut menyambut sang majikan.

"Dari mana saja kau nak? Pengajian sudah selesai!".

"Ini bu, saya ditolong oleh Bang Dorman yang baik hati. Belanjaannya berat sekali," keluh Herman.

Ibu Herman memandang sinis ke arah Dorman.

Dorman pun memberikan senyum termanisnya kepada Ibu Herman.

"Hellow,. saya Dorman" dengan gaya genit seleblog.

"Owkey......", jawab ibu Herman.

oh ya bu, bang dorman ini punya bakat jadi dokter lho. Dia tadi nyuntik pantatnya gunawan ! herman bercerita dengan bersemangat.

Sang ibu pun terkejut.

"Oh ya?", ibu Herman pun menaruh simpati pada Dorman.

"Apa yang kau suntikkan ke bokongnya? H2SO5 atau Pb3NaCl4".

Sebenernya saya tidak menyuntikkan ramuan apa-apa, Saya cuman tau klo anak seperti gunawan itu suka disuntik pantatnya ! ! Jawab dorman lugas.

"Cuma ini kok bu", imbuhnya sembari mengangkat jari telunjuknya.

Muka Gunawan bersemu merah. Ia malu.

Malu memperlihatkan telunjuknya yang basah oleh sebuah cairan.

Bu, mereka boleh menginap disini semalam bersamaku kan ? Herman merajuk kepada ibunya.

ayoolah buuu,.. pliiiissss,.. dengan gaya centil aini.

Ibu Herman pun dengan berat hati menerima mereka.

Walaupun Ibu Herman khawatir melihat tampang sangar Dorman dan suara genitnya itu.

Dia cuma takut, jika saja telunjuk Dorman yang kasar itu mengincar pantat lainnya.

Dan akhirnya Ibunya Herman menyelotip pantat Herman dan Gunawan.

Tapi tak sengaja, jari telunjuk ibu herman pun menyentuh....

Guci di atas rak. Guci itu jatuh ke lantai dan pecah.

pecahannya mengenai telunjuk ibunya herman.

Dan ibu Herman pun terhenyak dari mimpi buruknya.

Ternyata guci mahal itu tdk pecah.

Dan Hermanpun masih terkulai lemas di sebelah Gunawan.

Tiba2, dari guci mahal itu muncullah seberkkas asap yang mengepul.

"Ha ha ha ha ha...", sesosok bayangan besar dan menggemaskan pun keluar diantara asap itu.

"Aku jin iprit. Sampaikan 3 permintaanmu," seru makhluk itu.

Namun Ibu Herman menggigil ketakutan dibuatnya...

Sementara itu herman, gunawan dan dorman saling berebut mengajukan permintaan nya.

Dorman pun meminta, agar Gun bisa menerimanya apa adanya.

Herman meminta wanita semok dan bukan alumni thailand.

Sedangkan Gunawan minta supaya temannya yang bernama Chika dinikahkan dengan pria idolanya yang bernama Anang.

Gunawan meminta wanita Bandung idamannya agar segera koprol ke Jogja.

:Enak aje lu pade, gw aja blom mintak koq. Lu pade ude nyosor mintak aje" bentak ibu Herman.

"Sudah2, semua permintaan sudah dipakai. Aku menolak permintaan kedua Gunawan," teriak si Jin yang mulai stres.

Ibu Herman pun menyela "Paman Jin, berikan aku 3 permintaan lagi".

"Tidak boleh!" seru dia.

"Ah, si Om ini Pelit sekali, pantas saja istrinya jauh", cela ibu herman.

Jin semakin murka. Saat emosinya tak tertahankan, ia pun menghancurkan rumah Herman. Semua penghuninya mati tertimbun reruntuhan. TAMMAT.

Pesan Moral dari cerita di atas adalah, ....

eh sepertinya blom tammat karena Dorman dengan masih menggerakkan telunjuknya. Menandakan bahwa dia masih hidup.

Jin melihatnya. Ia pun melepaskan petir ke tubuh Dorman. Dorman pun tewas. Tammat.

Pesan moral cerita diatas adalah : 1. Jin yang jauh dari istrinya sangat mudah emosi . .

2. Dorman pun tidak sempat bertobat sebelum hidupnya berakhir.

3. Herman dan Gunawan adalah anak polos tidak berdosa yang kena azab.

4. Berhati-hatilah terhadap preman yang mengaku bisa menjadi dokter.

5. Hati-hati sebelum anda memcahkan guci, siapa tau jinnya jauh sama istri dan mudah emosi (lirik poin 1).

6. Jangan menyuruh herman pergi berbelanja ke pasar, dia sangat mudah tergoda oleh preman.

7. Jangan menerima tamu yang mengaku sebagai dokter, Herman dan Gun.

8. Jangan percaya pada jin. Jaman modern kok percaya jin.

9. Kalau cerita sudah blunder, sebaiknya di-TAMAT-kan saja.

10. BUBAR, ADA HANSIP.

11. TAMAT Yang Sebenar-benar TAMAT.

Plok plok plok plok .. . terdengar suara riuh penonton membahana seiring ditutupnya tirai panggung.

Toilet di sebelah mana ya?

tarhuu..tarahuuu...

Di sudut lain nampak pengunjung sedang berfoto dengan para pemain cerpen.

Herman dan Gunawan membagikan tanda tangan kepada para penggemarnya.

"Eh tau ngga seh, itu yang pemeran jin nya cakep banget yak ", Terdengar beberapa abg putri bercakap-cakap.

------ SEKIAN ------.

DAFTAR PUSTAKA.

Pemain Pendukung :

Momon sebagai : Herman.

Gunawan sebagai: Gunawan.

Alya sebagai : Jin Iprit.

Annots sebagai: Ibunya Herman.

Peter sebagai: Dorman.

Pepeng sebagai : anjingnya herman.

Sampai jumpa di kisah berikutnya....

Semoga Anda terhibur.

MERDEKA!

UNYIL KUCING!

*Tirai panggung digulung diiring lagu Indonesia Pusaka*.

Para penonton ikut bernyanyi. Selesai lagu, ada lagi yang berteriak: MERDEKA!

Dan kemudian lampu dimatikan.

Pintu dikunci...

Para penonton kaget, karena bingung mencari dimana sandal mereka.

Lampu kemudian dinyalakan kembali dan pembawa acara muncul untuk memberikan klarifikasi soal pemeran Dorman yang ternyata adalah Fakhrizal dan bukan Peter.

Penonton tidak perduli, dan masih berebutan mencari sandalnya masing2.

Tiba-tiba gedung pertunjukan terbakar.

Wartawan situs berita kemalumon ternyata sudah berada di lokasi dan melakukan live report.

Gedung masih mengeluarkan asap, dan keluarlah sosok bayangan sambil tertawa.

"Kekekekekekekeke" tawa bayangan dalam asap itu.

Beberapa penonton berusaha memanfaatkan situasi ini dengan menjamah pantat Gunawan.

Dan Gunawan menggelinjang menahan geli..

Tidak lupa mengeluarkan suara-suara aneh, yang tidak biasa terdengar, seperti bahasa asing tapi bukan, seperti bahasa jawa tapi sukar difahami.

Dan Gunawan pun sukses tertidur pulas oleh belaian-belaian yang di dapatinya.

Tanpa menyadari bahwa di sekelilingnya sedang terjadi kebakaran.

Dan ternyata .................... celana bagian pantatnya sudah terbakar.

Setelah tidak memliki celana untuk menutupi pantatnya, Gunawan mengambil daun talas sebagai pelapis terakhir.

Didetik yang menegangkan tersebut, tiba-tiba Gunawan ingat "ISTANA FUNKSHIT". Diapun bergegas kesana berharap menemukan sebuah alat untuk menutupi pantatnya.

Tapi sayang, Istana Funkshit juga ikut terbakar.

Dengan tutup daun talas itu Gunawan berkelana menyusuri jalan kota dan tidak menghiraukan tatapan nanar penduduk kota terhadap pantatnya yang menyembul dari balik daun talas.

Karena pada saat itu, Gunawan berjalan menyusuri kota dengan kondisi tertidur.

Kondisi yang tidak memungkinkan bagi orang awam, tapi hal ini adalah perkara mudah bagi Gun.

Tiba-tiba terpikir ide untuk mentato pantatnya agar tak perlu memakai penutup.

Dia mulai memikirkan motif apa saja yang bisa digunakan, pilihan yang tersedia : gambar buah durian, gambar kepala buaya dan gambar kerupuk.

Gunawan ingin memilih gambar Durian, tapi tiba-tiba seorang anak kecil muncul di hadapannya dan bilang "KRIUK".

Tetapi gunawan berfikir, jika gambar krupuk ...... takutnya orang mengira itu adalah ampas perutnya yang sedang keluar.

Terdengar menjijikkan, mungkin ini akibat rusaknya beberapa jaringan syaraf Gunawan akibat kurang kopdar.

Dan diapun berjanji dalam hati, mulai esok hari dia akan berkumpul dan bermain kembali bersama kawan-kawannya seperti dulu.

Akhirnya Gunawan pulang ke rumah dan mempersiapkan diri untuk bertemu kawan-kawannya. TAMAT.

Demikianlah sodara-sodara semua, kisah preman preman berhati emas yang ceritanya dimulai dengan "Dorman namanya. Dia preman tersangar di pasar Kranggan".

Lalu dilanjutkan dengan "Badannya kekar. Urat-urat kasar menyembul dari pergelangan tangannya yang berwarna hitam mengkilat.".

kemudian penjelasan Ciri2 nya yaitu "Rambut gondrong dan jaket jeans lusuh warna hitam".

Tapi herannya, cerita sepanjang itu hanya berakhir dengan kata "Akhirnya Gunawan pulang ke rumah dan mempersiapkan diri untuk bertemu kawan-kawannya.". Uh...

Padahal sebagian besar penonton berharap akhir yang lebih dramatis, Misalnya "Akhirnya Gunawan dan celo berbahagia selama-lamanya", Atau "Akhirnya gunawan sukses mendapat kan kapal persiar dan berhasil menyongsong indonesia emas".

Sebagai penonton mungkin hanya bisa memberikan saran dan kritik. Mohon maaf jika kritik kami terlalu pedas sehingga menusuk hati. Setidaknya penonton nggak nyuekin cerita ini, karena diceukin itu sakiiiiiiit.

Sang sutradara kelabakan oleh kritikan para penonton, dia bingung tujuh keliling karena penulis naskah sedang pergi keluar kota. Akhirnya diputuskan ........

untuk membuat sekuel dari cerita "Kisah Preman yang berhati emas" ini.

Usulan judul antara lain "Kisah Preman Berhati Emas (Part II) : Belajar Mengaji Seusai Maghrib", yang bercerita tentang perjuangan Dorman untuk bertaubat ke jalan yang lurus.

Ada juga beberapa pihak yang mengusulkan judul yang tidak kalah dahsyat, diantaranya "Kisah Preman yang Berhati Perak".

Untungnya penonton tidak suka latah, dan mengusulkan "Kisah Preman Berhati Perunggu".

Karena jika mendengar kata perunggu, Sutradara imran akan teringat masa kecilnya menjadi juara tiga di lomba 17 an.

Waktu itu pak sutradara kecil mengikuti lomba panjat dinding. Lokasinya adalah di...

Kampus Ugm, jurusan teknologi pertanian. Bangunan kampus yang legendaris dan menyimpan banyak kenangan.

Terutama di bagian lab gedung timur lantai tiga. Di sana hiduplah seorang ....

Pramuka berhati berlian.

Pemuda yang penuh cinta. Hari2 nya diisi dengan menyebarkan cinta kepada sesama. Namun ia ....

Tidak pernah bisa mencintai wanita. Karena dia...

seorang wanita.

Setiap hari dia menulis buku harian. Lembar pertama berisi :

Daftar Isi.

Kolom Persembahan.

Khusus lembar Persembahan dia menulisnya dengan kertas warna merah jambu, nama pertama yang di tulis adalah :

Adit Sepeda.

Lalu...

Selosuwi Phaginawatie.

Ups! Ada satu nama yang terlupakan, harusnya ditulis di bagian awal. Yaitu ...

Sirih Ayu Manjawati.

Kemudian ditulisnya Latar Belakang Masalah. Masalah yang diangkat adalah...

Kisah si Ciki teman Selosuwi istri dari Dorman mantan preman kranggan yang sudah bertobat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar